Ya Tuhan,
tolong hentikan perasaan ini. Aku tak ingin terbawa arus perasaan yang
merupakan imajinasiku sendiri. Tertawa sendiri di dalam bis, bisa membuatku dianggap
gila. Minimal dilirik kurang waras. Memikirkanmu membuat hatiku tak menentu. Pertanyaan”
sederhana begitu membuat diriku ingin tahu. Kau sedang apa? Dimana? Sama siapa?
Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa mood-mu sedang bagus? Semoga kau selalu
menang yah, kan katamu tidak ada waktu untuk kalah. Banyaknya pertanyaan dan
jawaban dugaan yang kukarang dan terakir aku bertanya pada diriku. Untuk apa
menanyakan itu semua. Hmm aku benci mengingat aku tidak mungkin membencimu.
Kau tampak
seperti tak peduli. Inilah yang aku inginkan dari seorang lelaki. Sehingga ketika
kehilangan, dia tidak harus terus menerus menghantui orang yang menghilang atau
meninggalkannya.
Aku tau
kalo dia sibuk dengan aktivitas barunya. Aku hanya berharap usahanya lancar dan
selalu diberkahi Tuhan. Meski aku tak mengenalnya secara pribadi, doaku akan
terus mengiringi setiap langkah kakinya. Selamanya aku hanya akan jadi pengagum
pribadi. Aku tak ingin terlalu jauh mengharapkannya. Aku takut. Aku sangat
takut. Jatuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar