Aku
sakit. Sampai begitu penasaran akan kenikmatan rasa segelas air. Tapi aku tak
berani meminta sembuh padaNya. Sang Pemberi memberiku rasa sakit, lalu aku meminta sembuh?
Tidakkah aku mempunyai urat malu? Aku tidak berani bahkan ditengah gemuruh
langitNya aku membisu. Meski ingin sekali aku bernyanyi memadukan suara dengan
langit. Namun lagi-lagi aku hanya terdiam. Menatap langit yang terus menua.
Biarlah rasa sakit ini sebagai penghapus dosa-dosa.
Wahai
Tuhanku, Kekasihku, dibumi ini, disini, ada aku yang selalu menatap langit yang
sama dengannya. Bilakah Kau akan pertemukan kami dijalanMu? Aku merangkai
sejumlah rencana masa depan, meskiii aku tahu diantaranya akan ada yang Kau
hapus lalu Kau ganti dengan yang jauuh lebih indah dari rencanaku. Buatlah aku
mengerti, meski aku tak ingin.
Secinta
apapun diriku pada korea dan orang"nya serta keduniaan yang melengkapinya
tidak akan mampu menandingi kecintaanku kepadaMu. Seandainya langit runtuh
karena kehendakMu, aku tetap akan mencintaiMu. Aku penyembah yang mencintai
sesembahannya melebihi nyawanya sendiri. Seandainya rasa sakit yang melilit di
tubuhku sekarang ini tak kunjung reda, aku pun akan tetap menyembahMu seperti
saat Kau beri aku eskrim kacang merah dikala sedih. Saat sepulang dari makam
papa. Aku mencintaiMu karena aku mencintaiMu. Segala yang terjadi padaku, aku
mohon selamatkan aku dari terjerumus ke lubang yang sama. Biarlah aku disini
bersamaMU, bersama rasulMu, bersama keluarga dan orang-orang yang tulus
mencintaiku. Aku tak pernah tidak membutuhkanMu. Because everything is
You.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar