Noon,
26th April ‘12
@angkot
s10
Masih di hari yang sama,
abis ketemu Ustad sejuta senyum itu, aku langsung ke kampus. Setelah pamitan
sama mama dan yang lainnya aku pun berangkat naek D18. Biasanya ga naek angkot
sih, biasanya bis. Tapi karna deketan naek angkot kalo dari tempat pengajian,
yaudah naek angkot deh jadinya. Udah lama juga ga naek angkot ini, kalo dulu
pas masih di pondok sering banget ke BP jadi naek ini dari depan pondok. Cuma
sekarang udah jarang kemana2 selaen ke kampus. Mau ke kostan temen aja ditunda
mulu neh, padahal udah berapa taun ga ketemu hehe. Ada aja alesan yang bikin ga
bisa pergi.
Setelah nyampe BP, aku
turun dan berganti angkot dengan s10. Gada penumpang satupun. Kalo udah ngeliat
kosong begitu, aku pasti duduk di depan, coz serem juga duduk dibelakang
sendirian hehe. Entah berawal dari mana tiba” aku terlibat dalam percakapan
yang cukup seru sama om supir. Dari ngomongin basa basi, kerjaan sampe ke ranah
pribadi. Sekilas aku merasa agak aneh, kenapa si om terbuka sekali dengan orang
yang baru dikenal dan karena perjalanan cukup panjang jadi yaa aku mengikuti
aja arah pembicaraannya dan lebih sering menjadi pendengar yang baik sih.
Mengingat perjalanan
hidupku, mungkin udah ga asing orang yang baru sekali kutemui langsung begitu
percaya padaku. Sempat beberapa kali aku bertemu ibu2, yang pertama ibu2 muda
dan kedua, ketiga dan keempat sudah paruh baya. Padahal aku Cuma mengajak ngobrol
hal2 sederhana sampai saling berbagi nasehat dan cerita. Bahkan ada yang
menyuruhku mampir ke rumahnya, padahal namaku saja mereka belum tau.
Alhamdulillah, aku Cuma bisa bersyukur pada Allah, kalau aku dipercaya seperti
itu. Lagipula tak jarang aku lebih cepat dekat dengan orang yang baru saja ku
kenal daripada yang sudah lama ku kenal. Karena aku sangat suka menemui orang2
baru. Dalam hidup ini, aku ingin setiap harinya menemui dan mengobrol dengan
orang2 baru. Dari sana aku bisa belajar kehidupan seseorang yang sama namun
berbeda pengalaman denganku.
Kembali ke om supir, dia
bercerita padaku bahwa dia udah lama ga pulang kampung. Mungkin bagi sebagian
orang aku dianggap apa, cewe dengerin curhatan supir angkot. Tapi bagi aku,
gada yang salah dengan itu. Toh bukan ngomongin siapa2 tapi ngomongin diri
sendiri. Ga dosa kan? Daripada orang2 yang dari luar kelihatan begitu mulia dan
santun yang ternyata mulutnya tak bisa berhenti menggibah. Terusin yah, kata si
om, dia malu mo pulkam. Karena gada yang bisa dibanggain. Dulu, dia kerja jadi
supir pribadi di rumah orang kaya dan udah dianggap keluarga sendiri. Kalo
sekarang dia masih disana mungkin udah hidup enak, tapi dia tergiur dengan
cerita temannya yang bilang kalo dia dapet cepek Cuma setelah setengah hari
narik angkot. Dan bebas pula, ga terikat dengan majikan. Akhirnya dia turun ke
jalan, dan mulai beradu nasib di jalanan narik angkot.
Kurang lebih 20 tahun dia
sudah merantau di jakarta. Dari smp dia sudah dijakarta dengan saudaranya yang
ia bantu dengan pekerjaannya menjadi supir dan bahkan saudaranya kini sudah
menjadi seorang dosen. Si om bilang, kalau dia suka menulis, hanya saja seringkali
setelah dia menulis dan dia membaca hasil tulisannya itu dia merasa tatabahasa
yang digunakannya itu kurang bagus. Tidak seperti nopel atau minimal cerpen lah
katanya. Hehe dalem hati gue dah nyengir2 sendiri, gue ketabrak nehh haha. Gue
banget, nulis tanpa peduli apa yag mo ditulis, hasilnya akan gimana, ada yang
baca atau gak. Seandainya gada satupun manusia di dunia ini yang bahkan sekedar
basa basi pengen baca tulisanku,aku akan tetap menulis. Meskipun manusia dan
setan bersatu buat menghentikanku menulis karena tulisanku jelek, aku akan
tetep menulis. Apapun yang terjadi dalam kehidupanku. Dihina, dicaci, ditegur
di depan umum, dipermalukan, dikucilkan, diabaikan, bahkan tidak dianggap ada.
Tak lupa pula tentang anugrah2 Tuhan yang sebenarnya terlalu indah untuk
sekedar ditulis. Tentang kebahagiaan, pertemuan, senyuman terhadap kekecewaan,
canda tawa, gembira dan keajaiban2 Tuhan yang tak pernah berhenti mengaliri
setiap detik hembusan nafasku. Semua. Semua akan aku tulis, meskipun aku ga
berbakat menulis. Meskipun tatabahasa bahkan wibawaku nihil dalam menulis, apa
peduliku. Orang yang terlalu peduli dengan kewibawaan dan tata bahasa akan
stres menghadapi tuntutan2 yang dia buat sendiri.
Nah loh jadi ke aku lagi
kan, balik ke om supir. Dalam menulis terkadang dia berusaha menutup2i
kehidupan jalanannya. Namun denganku dia ungkapkan semuanya, katanya, dari ga
kenal billiar dan miras sampe hafal. Dari ngeliatin judi sampe masuk ke
dalamnya. Dan segala macam kegelapan hidup dijalan diungkapkannya tanpa ada
rasa malu padaku, orang yang bahkan tidak ia kenal namanya. Dia juga
menceritakan pertemuaannya dengan seorang perempuan dan hal lainnya. Aku Cuma
sesekali menambahkan atau menanggapi percakapan. Sampai akhirnya, angkot sudah
di depan kampus dan aku pun turun setelah memberi ongkos, sedikit tergesa2
karna ada mobil dosen mo keluar dari kampus dan angkot si om menghalangi
jalannya. Dan akhirnya aku pun pergi tanpa mengucapkan terimakasih.
Entah kenapa aku ingin
membiasakan lidahku dengan kata terimakasih. Tak jarang aku mengucapkannya pada
orang2 yang tak perlu aku ucapkan terimakasih. Tapi aku tetap ingin terus
membiasakan lidahku berterimakasih bahkan pada orang2 yang gemar membicarakanku
dan bahkan membenciku. Pada orang2 yang sangat muak terhadap orang sepertiku
sekaligus, seperti para dosen. Bahkan rektor pun pernah menegurku untuk masalah
yang sama. Apalagi? Masalah cara berpakaianku yang tak sama seperti mereka,
lalu mereka merasa berbeda. Aku benar2 orang yang tak tau malu ya? Itulah
buruknya diriku. Dan apalah yang harus aku pedulikan selain Tuhanku yang maha
bijaksana dalam menilai.
Biarlah, biarkan saja
semuanya menekanku sampai terbenam ke bumi. Lalu biarkan aku berkembang dibawah
tekanan mereka. Apa gunanya mereka bersikap seperti itu, padahal aku tak pernah
sekalipun mengomentari penampilan mereka yang ku anggap sah2 saja. Kenapa
mereka harus memaksaku menjadi seperti mereka. Mungkin mereka sedikit berhasil,
karna sedikit2 ku ubah caraku berpakaian menjadi seperti mereka. Namun, apa itu
tandanya mereka berhasil? Seperti halnya cinta, tidak bisa dipaksakan. Mungkin
orang bisa dibeli tapi tidak hatinya. Jangan pernah memaksa jika tidak ingin di
paksakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar