Senin, 30 April 2012

Ngobrol sama om supir ^^



Noon, 26th April ‘12
@angkot s10
Masih di hari yang sama, abis ketemu Ustad sejuta senyum itu, aku langsung ke kampus. Setelah pamitan sama mama dan yang lainnya aku pun berangkat naek D18. Biasanya ga naek angkot sih, biasanya bis. Tapi karna deketan naek angkot kalo dari tempat pengajian, yaudah naek angkot deh jadinya. Udah lama juga ga naek angkot ini, kalo dulu pas masih di pondok sering banget ke BP jadi naek ini dari depan pondok. Cuma sekarang udah jarang kemana2 selaen ke kampus. Mau ke kostan temen aja ditunda mulu neh, padahal udah berapa taun ga ketemu hehe. Ada aja alesan yang bikin ga bisa pergi.

Setelah nyampe BP, aku turun dan berganti angkot dengan s10. Gada penumpang satupun. Kalo udah ngeliat kosong begitu, aku pasti duduk di depan, coz serem juga duduk dibelakang sendirian hehe. Entah berawal dari mana tiba” aku terlibat dalam percakapan yang cukup seru sama om supir. Dari ngomongin basa basi, kerjaan sampe ke ranah pribadi. Sekilas aku merasa agak aneh, kenapa si om terbuka sekali dengan orang yang baru dikenal dan karena perjalanan cukup panjang jadi yaa aku mengikuti aja arah pembicaraannya dan lebih sering menjadi pendengar yang baik sih.
Mengingat perjalanan hidupku, mungkin udah ga asing orang yang baru sekali kutemui langsung begitu percaya padaku. Sempat beberapa kali aku bertemu ibu2, yang pertama ibu2 muda dan kedua, ketiga dan keempat sudah paruh baya. Padahal aku Cuma mengajak ngobrol hal2 sederhana sampai saling berbagi nasehat dan cerita. Bahkan ada yang menyuruhku mampir ke rumahnya, padahal namaku saja mereka belum tau. Alhamdulillah, aku Cuma bisa bersyukur pada Allah, kalau aku dipercaya seperti itu. Lagipula tak jarang aku lebih cepat dekat dengan orang yang baru saja ku kenal daripada yang sudah lama ku kenal. Karena aku sangat suka menemui orang2 baru. Dalam hidup ini, aku ingin setiap harinya menemui dan mengobrol dengan orang2 baru. Dari sana aku bisa belajar kehidupan seseorang yang sama namun berbeda pengalaman denganku.

Kembali ke om supir, dia bercerita padaku bahwa dia udah lama ga pulang kampung. Mungkin bagi sebagian orang aku dianggap apa, cewe dengerin curhatan supir angkot. Tapi bagi aku, gada yang salah dengan itu. Toh bukan ngomongin siapa2 tapi ngomongin diri sendiri. Ga dosa kan? Daripada orang2 yang dari luar kelihatan begitu mulia dan santun yang ternyata mulutnya tak bisa berhenti menggibah. Terusin yah, kata si om, dia malu mo pulkam. Karena gada yang bisa dibanggain. Dulu, dia kerja jadi supir pribadi di rumah orang kaya dan udah dianggap keluarga sendiri. Kalo sekarang dia masih disana mungkin udah hidup enak, tapi dia tergiur dengan cerita temannya yang bilang kalo dia dapet cepek Cuma setelah setengah hari narik angkot. Dan bebas pula, ga terikat dengan majikan. Akhirnya dia turun ke jalan, dan mulai beradu nasib di jalanan narik angkot.

Kurang lebih 20 tahun dia sudah merantau di jakarta. Dari smp dia sudah dijakarta dengan saudaranya yang ia bantu dengan pekerjaannya menjadi supir dan bahkan saudaranya kini sudah menjadi seorang dosen. Si om bilang, kalau dia suka menulis, hanya saja seringkali setelah dia menulis dan dia membaca hasil tulisannya itu dia merasa tatabahasa yang digunakannya itu kurang bagus. Tidak seperti nopel atau minimal cerpen lah katanya. Hehe dalem hati gue dah nyengir2 sendiri, gue ketabrak nehh haha. Gue banget, nulis tanpa peduli apa yag mo ditulis, hasilnya akan gimana, ada yang baca atau gak. Seandainya gada satupun manusia di dunia ini yang bahkan sekedar basa basi pengen baca tulisanku,aku akan tetap menulis. Meskipun manusia dan setan bersatu buat menghentikanku menulis karena tulisanku jelek, aku akan tetep menulis. Apapun yang terjadi dalam kehidupanku. Dihina, dicaci, ditegur di depan umum, dipermalukan, dikucilkan, diabaikan, bahkan tidak dianggap ada. Tak lupa pula tentang anugrah2 Tuhan yang sebenarnya terlalu indah untuk sekedar ditulis. Tentang kebahagiaan, pertemuan, senyuman terhadap kekecewaan, canda tawa, gembira dan keajaiban2 Tuhan yang tak pernah berhenti mengaliri setiap detik hembusan nafasku. Semua. Semua akan aku tulis, meskipun aku ga berbakat menulis. Meskipun tatabahasa bahkan wibawaku nihil dalam menulis, apa peduliku. Orang yang terlalu peduli dengan kewibawaan dan tata bahasa akan stres menghadapi tuntutan2 yang dia buat sendiri.

Nah loh jadi ke aku lagi kan, balik ke om supir. Dalam menulis terkadang dia berusaha menutup2i kehidupan jalanannya. Namun denganku dia ungkapkan semuanya, katanya, dari ga kenal billiar dan miras sampe hafal. Dari ngeliatin judi sampe masuk ke dalamnya. Dan segala macam kegelapan hidup dijalan diungkapkannya tanpa ada rasa malu padaku, orang yang bahkan tidak ia kenal namanya. Dia juga menceritakan pertemuaannya dengan seorang perempuan dan hal lainnya. Aku Cuma sesekali menambahkan atau menanggapi percakapan. Sampai akhirnya, angkot sudah di depan kampus dan aku pun turun setelah memberi ongkos, sedikit tergesa2 karna ada mobil dosen mo keluar dari kampus dan angkot si om menghalangi jalannya. Dan akhirnya aku pun pergi tanpa mengucapkan terimakasih.

Entah kenapa aku ingin membiasakan lidahku dengan kata terimakasih. Tak jarang aku mengucapkannya pada orang2 yang tak perlu aku ucapkan terimakasih. Tapi aku tetap ingin terus membiasakan lidahku berterimakasih bahkan pada orang2 yang gemar membicarakanku dan bahkan membenciku. Pada orang2 yang sangat muak terhadap orang sepertiku sekaligus, seperti para dosen. Bahkan rektor pun pernah menegurku untuk masalah yang sama. Apalagi? Masalah cara berpakaianku yang tak sama seperti mereka, lalu mereka merasa berbeda. Aku benar2 orang yang tak tau malu ya? Itulah buruknya diriku. Dan apalah yang harus aku pedulikan selain Tuhanku yang maha bijaksana dalam menilai.

Biarlah, biarkan saja semuanya menekanku sampai terbenam ke bumi. Lalu biarkan aku berkembang dibawah tekanan mereka. Apa gunanya mereka bersikap seperti itu, padahal aku tak pernah sekalipun mengomentari penampilan mereka yang ku anggap sah2 saja. Kenapa mereka harus memaksaku menjadi seperti mereka. Mungkin mereka sedikit berhasil, karna sedikit2 ku ubah caraku berpakaian menjadi seperti mereka. Namun, apa itu tandanya mereka berhasil? Seperti halnya cinta, tidak bisa dipaksakan. Mungkin orang bisa dibeli tapi tidak hatinya. Jangan pernah memaksa jika tidak ingin di paksakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar