Sekarang baru jam 23:51,
aku hampir lupa aku sedang sakit. Sambil menulis aku hampir menghabiskan tisu
disampingku karna sedang flu. Suaraku juga serak, tapi Alhamdulillah masih ada
suara. Aku pernah hampir kehilangan suaraku ketika aliyah dulu. Dan aku sangat
bersyukur kehilangan kesempatan bicara banyak. Artinya dosaku yang banyak
sedikit berkurang.
Ya Tuhan, aku ingin
bertemu lagi dengan orang2 yang mau berbicara denganku. Karna aku sangat muak
dengan orang2 yang berbicara padaku hanya ketika ia butuh dan meninggalkanku
ketika aku butuh. 2 hari sebelum bertemu ustad sejuta canda itu, aku hampir
gila menghadapi takdir Tuhan yang begitu indah, karena aku begitu buruk untuk
mendekatiNya. Aku menangis sampai kedua mataku membengkak ngalahin orang korea
deh sipitnya. Semua yang ada didekatku akan ku buang jauh” bahkan hp pun ku
banting tapi ga mati2 bikin aku yang udah kerasukan setan alay tambah kesel.
Aku bertanya seolah marah pada Tuhan, mengapa aku harus disini? Mengapa aku
begini dan begitu. Aku pun membuka jendela berharap akan ada jawaban dari
langit. Namun langit tetap membisu seribu bahasa. Bahkan tidak ada bahasa tubuh
yang ditunjukkannya yang mungkin menjadi jawaban.
Beberapa hari kemudian,
tepatnya tanggal 26 april ’12. Tuhan menjawab segala pertanyaanku. Tidak
tanggung” Tuhan mengirimkanku seorang ulama yang murah senyum dan sangat terkenal
di negriku. Ustad Maulana Ishaq namanya. Dalam ceramahnya, ia menyelipkan kata.
“Tidak boleh marah pada Tuhan” sejenak aku tersentak, kukira inilah jawaban.
Mulai hari ini, aku tidak akan bertanya mengapa lagi karna aku tau jawabannya
adalah mengapa juga. Mengapa nasibku sial, jawabannya adalah mengapa tidak?
Tuhan bisa melakukan apa saja yang
dikehendakiNya bukan?
Tulislah rencana2 indahmu
dengan pensil di atas kertas dan biarkan Tuhan yang memegang penghapusnya. Untuk
menghapus rencana2mu yang indah dan menggantinya dengan hikmah.
Seharusnya aku bertanya
pada diriku sendiri, “apa yang sudah aku lakukan?”. Seharusnya aku melakukan
sesuatu untuk merubah nasibku. Dan aku seharusnya bisa melakukannya, karna
ustad tersebut juga bercerita. Bahwa dulu beliau yatim ketika kelas satu sd,
beliau adalah orang makassar sama seperti ayahku yang juga orang makassar. Lalu
beliau bilang ke ibunya, “tidak usah beri aku uang jajan”. Seringkali beliau
bermain dengan anak anak pemulung, yang pada awalnya niat beliau adalah hanya
bermain yang lalu pada akhirnya beliau ikut berjualan kacang. Aku tidak habis
pikir, bagaimana mungkin anak kelas satu sd melakukannya. Apa anak2 makassar
banyak yang bekerja keras atau berjualan kacang seperti itu? Kurasa tidak,
apalagi anak sekarang malas2 dan jaim2 sehingga nggak sukses2. Akhirnya aku
menyerah berfikir dan mengembalikannya pada yang maha mengetahui segala
rahasia. Ya Tuhanku Ya Allahku, bimbing aku agar tidak melakukan hal2 bodoh
lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar