Senin, 30 April 2012

the wishes


Sekarang baru jam 23:51, aku hampir lupa aku sedang sakit. Sambil menulis aku hampir menghabiskan tisu disampingku karna sedang flu. Suaraku juga serak, tapi Alhamdulillah masih ada suara. Aku pernah hampir kehilangan suaraku ketika aliyah dulu. Dan aku sangat bersyukur kehilangan kesempatan bicara banyak. Artinya dosaku yang banyak sedikit berkurang. 

Ya Tuhan, aku ingin bertemu lagi dengan orang2 yang mau berbicara denganku. Karna aku sangat muak dengan orang2 yang berbicara padaku hanya ketika ia butuh dan meninggalkanku ketika aku butuh. 2 hari sebelum bertemu ustad sejuta canda itu, aku hampir gila menghadapi takdir Tuhan yang begitu indah, karena aku begitu buruk untuk mendekatiNya. Aku menangis sampai kedua mataku membengkak ngalahin orang korea deh sipitnya. Semua yang ada didekatku akan ku buang jauh” bahkan hp pun ku banting tapi ga mati2 bikin aku yang udah kerasukan setan alay tambah kesel. Aku bertanya seolah marah pada Tuhan, mengapa aku harus disini? Mengapa aku begini dan begitu. Aku pun membuka jendela berharap akan ada jawaban dari langit. Namun langit tetap membisu seribu bahasa. Bahkan tidak ada bahasa tubuh yang ditunjukkannya yang mungkin menjadi jawaban.

Beberapa hari kemudian, tepatnya tanggal 26 april ’12. Tuhan menjawab segala pertanyaanku. Tidak tanggung” Tuhan mengirimkanku seorang ulama yang murah senyum dan sangat terkenal di negriku. Ustad Maulana Ishaq namanya. Dalam ceramahnya, ia menyelipkan kata. “Tidak boleh marah pada Tuhan” sejenak aku tersentak, kukira inilah jawaban. Mulai hari ini, aku tidak akan bertanya mengapa lagi karna aku tau jawabannya adalah mengapa juga. Mengapa nasibku sial, jawabannya adalah mengapa tidak? Tuhan bisa melakukan apa  saja yang dikehendakiNya bukan?
Tulislah rencana2 indahmu dengan pensil di atas kertas dan biarkan Tuhan yang memegang penghapusnya. Untuk menghapus rencana2mu yang indah dan menggantinya dengan hikmah.

Seharusnya aku bertanya pada diriku sendiri, “apa yang sudah aku lakukan?”. Seharusnya aku melakukan sesuatu untuk merubah nasibku. Dan aku seharusnya bisa melakukannya, karna ustad tersebut juga bercerita. Bahwa dulu beliau yatim ketika kelas satu sd, beliau adalah orang makassar sama seperti ayahku yang juga orang makassar. Lalu beliau bilang ke ibunya, “tidak usah beri aku uang jajan”. Seringkali beliau bermain dengan anak anak pemulung, yang pada awalnya niat beliau adalah hanya bermain yang lalu pada akhirnya beliau ikut berjualan kacang. Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin anak kelas satu sd melakukannya. Apa anak2 makassar banyak yang bekerja keras atau berjualan kacang seperti itu? Kurasa tidak, apalagi anak sekarang malas2 dan jaim2 sehingga nggak sukses2. Akhirnya aku menyerah berfikir dan mengembalikannya pada yang maha mengetahui segala rahasia. Ya Tuhanku Ya Allahku, bimbing aku agar tidak melakukan hal2 bodoh lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar